Tampilkan postingan dengan label Makanan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makanan Anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2009

10 Cara Meningkatkan Pola Makan Sehat untuk Anak

Cara yang terbaik untuk meningkatkan nutrisi pada anak adalah menyediakan makanan dengan gizi seimbang di rumah. Untuk memulainya, yang diperlukan adalah cara membuat pilihan makanan sehat dan bantulah anak anda membangun hubungan yang baik dengan makanan sehat. Yang paling mudah adalah anak-anak akan mencontoh pola hidup dan pola makan sehat dari orangtuanya. Di bawah ini terdapat beberapa tips untuk membantu membentuk pola makan sehat pada anak-anak:

  1. Jangan membatasi makanan pada anak. Membatasi jumlah maupun jenis makakan dapat meningkatkan risiko gangguan pola makan pada anak seperti bulimia dan anoreksia pada saat remaja nanti. Efek lainnya adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan
  2. Sediakan makanan sehat di rumah anda. Anak-anak akan memakan makanan yang tersedia di rumah. Taruhlah buah di meja sebagai snack, jangan di sudut kulkas. Bawalah apel atau jeruk sebagai snack anda sendiri. Memberikan contoh akan jauh lebih efektif dibandingkan hanya menasihati mereka dengan kata-kata. Ingat, anak-anak hanya akan memakan makanan yang tersedia di rumah

img src="http://www.klikdokter.com/userfiles/pola%20makan%281%29.JPG" alt="" width="300" height="214" />

  1. Jangan melabel makanan dengan kata ‘baik’ atau ‘jahat’. Sebaliknya, tanamkanlah pengertian pada anak anda mengenai kandungan dari makanan tersebut. Seperti kalsium yang terkandung di dalam susu dan ikan sangat baik untuk perkembangan tulang dan gigi, dimana tulang yang baik berarti anak dapat aktif bermain atau berolahraga. Trans-fat yang dihasilkan oleh makanan yang digoreng (deep fried) dapat menyebabkan peningkatan kolesterol yang dapat menyebabkan obesitas dan sakit jantung sehingga anak tidak dapat bermain dengan leluasa. Hubungkanlah antara makanan dengan aktivitas olahraga atau bermain anak
  2. Hargailah pilihan makanan sehat oleh anak. Berikanlah senyum dan pujian apabila mereka memilih makanan yang sehat
  3. Jangan mengenai pilihan makanan yang tidak sehat. Apabila anak ingin makanan yang tidak sehat anda dapat mengabaikannya. Atau anda dapat memberi mereka makanan pengganti yang lebih sehat. Contoh apabila anak anda menginginkan ayam goreng, anda dapat membuatkan ayam panggang. Apabila anak anda menginginkan kentang goreng, anda dapat membuatkan kentang panggang dengan saus tomat, brokoli, dan daging
  4. Jangan pernah memberikan makanan sebagai hadiah. Hal ini dapat menyebabkan anak menjadi obesitas atau menderita masalah kelebihan berat badan. Berikanlah hadiah pada anak seperti jalan-jalan atau mainan
  5. Biasakanlah untuk makan malam bersama. Tradisi makan malam bersama menurut penelitian memberikan nutrisi yang lebih baik untuk anak dan mengurangi kemungkinan terjadinya masalah di kala remaja

  1. Sediakan piring masing-masing di kala makan. Tujuannya adalah agar anda dapat memberikan jumlah yang cukup dan sehat pada masing-masing piring (ayah, anak). Anak anda akan belajr mengenali jumlah yang proporsional atau cukup untuk nutrisi mereka
  2. Berikan anak anda kontrol. Ajaklah anak anda untuk memberikan nilai (0-10) pada masing-masing makanan di meja makan setelah mencicipinya. Apabila jenis makanan sehat, terutama sayuran, mendapatkan nilai yang tinggi, berilah pujian pada mereka dan berilah mereka lebih banyak sayuran.
  3. Konsultasikanlah ke dokter anak mengenai anak anda. Berkonsultasilah apabila akan melakukan perubahan diet pada anak anda, jangan menilai anak anda terlalu kurus atau gemuk oleh anda sendiri
Semua adalah mengenai bagaimana membentuk kebiasaan pola hidup sehat di rumah anda. Hal ini memerlukan waktu namun hasilnya akan sepadan. Banyak jenis makanan di luar rumah yang dapat menyebabkan anak anda menderita berat badan berlebih. Namun tentu saja pilihan makanan sehat yang anda terapkan di rumah akan dapat melindungi mereka seumur hidupnya.


Baca Selengkapnya......

Nutrisi Cukup, Anak pun Sehat dan Bahagia

Anak SehatKONVENSI Hak Anak (KHA) yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia sejak tahun 1990 menyatakan sehat adalah hak anak. Sehat di sini tidak hanya dalam pengertian fisik semata, melainkan juga kesehatan mental-sosial. Kebutuhan untuk menjadi bahagia, dalam hal ini sehat mental dan sosial, juga merupakan hak anak.

Bagaimana orangtua merespon kebutuhan ini? Perlu pengetahuan dan keterampilan orangtua agar anak tumbuh dan berkembang dengan sehat dan bahagia.

Anak yang bahagia, ujar, dr Tinuk Agung Meilany dari RSAB Harapan Kita, adalah anak yang bisa bernyanyi, tertawa, bebas berekspresi, serta tumbuh wajar sesuai kebutuhan dan minatnya. Menurutnya, untuk menjadi anak yang bahagia dan merasa puas pada dirinya sendiri perlu rangsangan yang cukup. Rangsangan ini akan diterima dengan optimal bila tubuh sehat dan hal ini perlu didukung nutrisi yang cukup dan seimbang.

Anak yang sehat, antara lain ditandai dengan aktif, ceria, memiliki selera makan yang baik, serta bisa bermain dan belajar. Berat badan naik setiap bulan dan perkembangan anak sesuai dengan usianya. Tinuk menyebut, agar seorang anak mampu menerima rangsangan dengan optimal, kebutuhan nutrisi atau zat gizi anak harus sejajar dengan pertumbuhan, aktivitas fisik, ukuran badan, energi yang dikeluarkan dan fase sakit.

"Keseimbangan zat gizi yang dikandung dalam komposisi, macam, maupun jumlahnya, harus sesuai dengan kebutuhan menurut berat badan ideal," katanya.

Empat Golongan

Ada empat golongan makanan yang harus terdapat pada makanan anak sehari-hari. Keempat golongan itu adalah: makanan pokok, da ging dan telur, sayur dan buah, serta susu. Makanan pokok merupakan sumber karbohidrat, protein nabati, mineral serat, dan vitamin B. Daging dan telur mengandung protein, zat besi, vitamin A dan B. Dari sayur dan buah, kata Tinuk, diperoleh vitamin E, provitamin, serat. Sedangkan dari susu, anak akan mendapatkan berbagai zat gizi, antara lain kalsium, fosfor, vitamin A, B, dan D.

Selain keempat golongan makanan itu, anak juga memerlukan makanan tambahan yang kaya gizi. Menurut Tinuk, orangtua hendaknya mengatur jadwal makan anak. Artinya, orangtua jangan menunggu anaknya meminta makan. Namun tidak mudah membuat anak patuh terhadap jadwal makan yang sudah ditetapkan. Untuk mengatasi hal ini, perlu diciptakan suasana makan yang menyenangkan. Agar suasana menyenangkan, dari sisi fisik yang perlu diperhatikan adalah jadwal makan teratur, serta makanan tambahan diberikan dua jam sebelum atau sesudah makan. Peralatan makan seperti sendok dan gelas disesuaikan dengan anak. Demikian juga dengan meja dan kursi makan.

Di samping itu, emosi sosial pun perlu diperhatikan, seperti menu baru agar anak tidak merasa bosan, tidak mendikte atau memarahi anak, serta menu berbeda setiap hari. Tak kalah penting adalah orangtua mengajak dan mendampingi anak di meja makan.

Zat Gizi

Dijelaskan, beberapa zat gizi berperan dalam kerja otak, seperti asam aspartat yang terdapat pada kacang, kentang, telur, gandum. Kolin yang terdapat pada telur, hati, kedelai. Asam glutamat terdapat pada terigu dan kentang. Fenilalanin terdapat pada kedelai, almond, telur dan daging. Triptofan terdapat pada telur, daging, susu skim, pisang, susu, keju, serta, zat gizi tirosin yang banyak terdapat pada susu, daging, ikan, dan kacang-kacangan.

"Otak memerlukan glukosa, asam amino, lemak, vitamin dan mineral, yang diperoleh dari makanan. Bila kekurangan atau kelebihan akan berdampak pada sistem saraf," kata Tinuk.

Dicontohkan, asam lemak esensial (omega oil) mempengaruhi fungsi otak berupa perilaku dan mood, kognitif, pergerakan, dan sensasi pada anak. Kekurangan asam lemak omega 3 menimbulkan masalah penglihatan, belajar, motivasi, serta motorik. Kekurangan omega 6 berdampak pada produksi neurotransmiter dan kemampuan sel saraf menggunakan glukosa. Sedangkan kekurangan zat besi menimbulkan gangguan pada selaput otak yang menyebabkan pendengaran terganggu, bicara terlambat, perilaku anak berubah dan penglihatan terganggu. Tinuk menegaskan, kecukupan gizi hendaknya dimulai dari masa kehamilan (janin).

Keterampilan

Agar anak sehat dan bahagia, gizi yang seimbang perlu didukung keterampilan orangtua menciptakan suasana supaya mental si anak pun sehat. Menurut psikolog Agustina Hendriati Psi MSc, ada lima keterampilan yang harus dimiliki orangtua agar hal itu tercapai. Pertama, orangtua mengenali ciri anak yang sehat dan bahagia. Kedua, orangtua mendorong anak mengekspresikan diri secara verbal. Ketiga, orangtua memberi kesempatan anak memilih, sambil mengajarkan anak membuat pilihan yang terbaik baginya.

Keempat, orangtua menyampaikan dan menerapkan batasan perilaku. Kelima, orangtua berjaga dan bekerja saat anak berperilaku positif.

Dikatakan, orangtua di kawasan Asia cenderung santai ketika anaknya "baik-baik" saja. Padahal, ketika itulah seharusnya orangtua harus bekerja, yakni menunjukkan penghargaan tulus dan mendorong agar si anak terus mempertahankan perilaku tersebut.

"Pada dasarnya semua orang ingin dihargai. Oleh karena itu mengembangkan anak yang sehat dan bahagia akan lebih mudah dilakukan dengan fokus pada perilaku positifnya," kata Agustina.

Lebih jauh dikatakan, orangtua hendaknya menunjukkan atau menyampaikan harapannya yang realistis terhadap perilaku anak. Tidak hanya itu, orangtua juga harus menerapkan batasan perilaku mana yang dapat diterima dan yang tidak. Semakin dini orangtua memberlakukan hal ini dan konsisten, semakin mudah terlihat hasilnya.

Globalisasi berdampak pada perkembangan anak dan hubungan antara orangtua dan anak. Ada banyak rangsangan di dalam dan luar rumah yang diterima anak, misalnya, melalui televisi, radio, media cetak dan internet. Oleh karena itu, ujarnya, sangat baik jika sejak anak masih kecil, orangtua terbiasa menunjukkan adanya pilihan dan menjelaskan alasan dibalik keputusan yang dibuat orangtua.

Agustina menambahkan, orangtua juga perlu mendorong anak berekspresi secara verbal (berbicara), sekalipun anak bisa bereskpresi secara nonverbal, seperti menangis atau menunjuk. Orangtua yang terlalu sering mengatakan jangan atau tidak, akan menghambat ekspresi anak. (N-4)

Baca Selengkapnya......

Kamis, 23 April 2009

Risiko MSG Dalam Makanan Anak

jajanan anakRibut-ribut soal monosodium glutamat (MSG) sebagai bahan penyedap kembali mencuat. Kali ini, Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC) yang mempersoalkan kandungan monosodium glutamat alias vetsin dalam makanan ringan yang biasa dikonsumsi anak-anak. Menurut lembaga swadaya masyarakat ini, banyak makanan ringan dalam kemasan tak mencantumkan kandungan MSG yang bisa mengancam kesehatan anak.

Kata Nurhasan, peneliti di PIRAC, lembaganya meneliti 13 merek makanan snack sejak Juni hingga Juli 2003. Dari 13 merek itu, ternyata sebanyak tujuh merek tak menyebutkan adanya MSG dalam kemasannya. Ketujuh merek itu adalah Chiki, Chitato, Cheetos, Taro Snack, Smax, Golden Horn, dan Anak Mas. Padahal, sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen Tahun 1999 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722 Tahun 1988 tentang bahan tambahan makanan, kandungan MSG dalam makanan harus disebutkan.

Sementara itu, enam merek makanan ringan lainnya memang menyatakan adanya kandungan MSG. Tapi, menurut Nurhasan, berapa gram kandungan MSG ini tak disebutkan secara tegas. Hal ini tentu tak sejalan pula dengan prinsip kejelasan bagi konsumen.

Dari hasil penelitian itu pula, PIRAC memperoleh persentase kandungan MSG dalam makanan snack yang dimaksud. Tiga makanan ringan, yakni bermerek Cheetos, Chitato, dan Twistko, ternyata mengandung MSG lebih dari 1% (lihat Info Grafik). Bayangkan, bila seorang anak memakan sampai 100 gram snack berkadar 1,02% MSG, berarti si anak telah mengonsumsi MSG sebanyak 1,02 gram. Bagaimana jadinya kesehatan anak bila pola mengonsumsi snack ber-MSG ini terjadi berulang kali?

Tapi, berapa gram persisnya konsumsi MSG yang bisa membahayakan kesehatan anak? Nurhasan mengaku tak bisa memastikan. �Hitung-hitungan ini memerlukan penelitian khusus,� ucapnya. Masalahnya, hingga sekarang belum ada penelitian klinis tentang dampak MSG terhadap kesehatan manusia. Boleh jadi ini karena kendala etis penelitian yang tak membolehkan manusia dijadikan kelinci percobaan. Kalau di bidang obat-obatan, penelitian klinis masih memungkinkan.

Yang jelas, Nurhasan menyodorkan referensi berdasarkan rekomendasi Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat. Menurut institusi ini, batas aman MSG yang bisa dikonsumsi adalah di bawah dua gram. Kalau sudah dua gram sampai tiga gram, sebagaimana hasil penelitian lembaga itu pada tahun 1995, MSG bisa menimbulkan alergi. Dan, bila sampai mengonsumsi lima gram MSG, ini bisa membahayakan orang yang menderita penyakit asma.

Dulu, pada tahun 1975, Institut Pertanian Bogor pernah meneliti efek MSG terhadap ayam. Hasilnya, unggas itu mati setelah mengonsumsi makanan yang mengandung MSG. Menurut Nurhasan, efek negatif ini bisa dianalogikan dengan kasus Chinese Restaurant Syndrome. Dalam kasus ini, seorang dokter di Amerika makan di sebuah restoran Cina pada tahun 1969. Sekitar 20 menit kemudian, dia merasa mual, pusing, dan kemudian muntah-muntah. Sindrom atau kumpulan gejala ini terjadi lantaran makanan Cina mengandung banyak MSG. Ini berarti pula, �Mengonsumsi MSG tergolong berisiko,� ujar Nurhasan.

Karena itulah, kata Nurhasan lagi, PIRAC meminta agar pemerintah melalui Departemen Kesehatan membuat peringatan bahwa mengonsumsi MSG lebih dari satu gram adalah berbahaya. Hal ini sesuai dengan rekomendasi Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat, yang menyebutkan bahwa batas aman MSG adalah di bawah dua gram.

Selama ini, yang digunakan selalu patokan dari Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722 Tahun 1988 tentang Bahan Tambahan Makanan, yang hanya menyatakan bahwa pemakaian MSG secukupnya. �Tak bisa hanya dikatakan secukupnya. Harus ditegaskan juga batas amannya dalam satuan gram atau miligram,� tutur Nurhasan menambahkan.

Ternyata, hasil penelitian sekaligus pendapat PIRAC itu langsung diprotes keras oleh Sunarto Prawiro Sujanto, Ketua Persatuan Pabrik MSG dan Glutamic Acid Indonesia. �Pernyataan PIRAC itu omong kosong. Penelitiannya bohong,� kata mantan Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan (POM) pertama pada tahun 1974, ini.
Sunarto menambahkan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat sudah secara resmi menyatakan MSG aman. �MSG beredar di Amerika dan tak merugikan kesehatan konsumen,� ujarnya.

Ia juga mengkritik hasil penelitian PIRAC tentang kadar MSG dalam berbagai merek makanan ringan. Menurut PIRAC, kandungan MSG yang dimaksud antara 0,46% dan 1,02%. Kalau benar kandungannya sebesar itu , berarti sebungkus makanan snack yang beratnya antara 14 dan 20 gram hanya mengandung MSG antara 64,4 miligram hingga 204 miligram. Tapi, PIRAC mengatakan bahwa makanan ringan tersebut seberat 200 gram—berarti jumlah MSG-nya adalah 0,92 gram sampai 2,04 gram. �Tak ada makanan ringan seberat 200 gram,� kata Sunarto.

Di Amerika pun, snack dalam kemasan kaleng hanya seberat 180 gram—artinya tak sampai 200 gram. Di kalengnya memang disebutkan adanya kandungan MSG, tapi tak dicantumkan kadar kandungannya. Sebab, tak ada aturan yang mengharuskan itu. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 juga tak mengharuskan disebutkannya kandungan MSG. Bahkan menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 235 Tahun 1979, MSG atau vetsin boleh dipakai, asalkan secukupnya. �Itu semua membuktikan bahwa MSG memang aman untuk dikonsumsi,� ujar Sunarto.

Sunarto tak lupa memprotes kalangan dokter yang acap mengatakan bahwa MSG berbahaya. �Omong kosong kalau ada orang sakit karena makan MSG,� ucapnya. Lagi pula, sampai saat ini belum ada penelitian yang bisa membuktikan bahaya yang dimaksud. Pernah bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada melakukan penelitian serius tentang efek MSG. Penelitian ini dibantu oleh Departemen of Mathematical Sciences, Faculty of Business and Technology, University of Western Sydney, Australia.

Hasilnya? Sebagaimana dipresentasikan di Italia pada 12-14 Oktober 1998, ternyata tak ditemukan gejala gangguan kesehatan pada orang-orang sehat yang makanannya ditambah MSG sampai tiga gram pada setiap porsinya. Tekanan darah, kecepatan denyut nadi, dan pernapasan pada kelompok sampel orang-orang yang diberi MSG antara 1,5 sampai 3 gram juga tak berbeda nyata dengan mereka yang diberi makanan tanpa MSG.

Atas dasar itu, menurut Sunarto, batasan kandungan MSG yang bisa dikonsumsi tak perlu dicantumkan. �Berbagai makanan ringan itu pun paling banter kandungan MSG-nya 0,004%. Kalau terlalu banyak, rasanya asin. Jadi enggak laku dong,� katanya.

Hal senada juga diutarakan Ketua Badan POM, Sampurno. Menurutnya, makanan ringan yang diteliti PIRAC itu aman untuk dikonsumsi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan bahwa MSG aman bagi kesehatan. Tentu saja bahan ini tak boleh sampai dikonsumsi oleh bayi, terutama yang masih berusia di bawah tiga bulan. Kendati demikian, Sampurno sependapat bila kandungan MSG harus dicantumkan di label kemasan makanan.

Baca Selengkapnya......
 
© free template by Blogspot tutorial