Dengan lomba egrang ini, diharapkan anak-anak mengenal kembali permainan tradisional, dikala permainan-permaian moderen semakin menjadi idola. Dan membangkitkan kreatifitas anak, baik dari segi ketrampilan atau ketangkasan. Perasaan gugup terkadang mematahkan konsentrasi keseimbangan tubuh, sehingga sesekali dari pesertapun tidak luput dari kegagalan dan jatuh.
Suport dari teman peserta dan penonton terkadang malah membuat gugup, bukannya semangat malah menambah perasaan tidak karuan dan mempeercepat detek jantung. Itulah permainan, dimana permainan yang membutuhkan ketenangan jiwa dan keseimbangan.
Setelah lomba egrang selesai, dilanjutkan lomba bawa kelereng. Lomba bawa kelereng juga termasuk jenis perlombaan yang membutuhkan ketrampilan keseimbangan, menyeimbangkan gerak kelereng diatas sendok yang dipegang dengan mulut. Terlihat mudah memang, namun tidak semua anak bisa menyeimbangkan kelereng tersebut, apalagi dengan perasaan jantung yang berdebar kencang dan perasaan gugup.
Suasana semakin sore semakin ramai, perserta lombapun lebih banyak peminatnya dibanding dengan lomba dihari pertama. Dalam lomba permainan ini dipegang penuh oleh mas Jujun, baik dari proses pendaftaran hingga penilaian.Setelah selesai lomba bawa kelereng, dilanjutkan yang terakhir adalah lomba pecah air. Sekitar 50 anak, dan hampir semua anak-anak yang hadir dilokasi perlombaan ikut dalam lomba pecah air. Lomba pecah air harus ditunda karena waktu sholat asyar telah tiba, baik peserta atau panitia melaksanakan sholat berjamaah.
Lomba pecah air berjalan meriah, dengan mata tertutup, kesalahan memukul membuat penonton tertawa terbahak-bahak. “Hiburan, hiburan melihat polah anak sendiri,” ujar seorang ibu ketika melihat anaknya salah sasaran. “Bukan air yang dipukul, malah penontonnya yang di gebuk,” lanjut sang ibu.
Lomba permainan lainnya adalah lomba gapyak, tapi tidak dilakukan pada sore itu
Sabtu, 11 Juli 2009
Lomba Permainan Tradisional
Selasa, 26 Mei 2009
Hiburan Anak Khas Ciamis
Nah, mungkin ini hanya ada di kota Ciamis Jawa Barat. Permainan ini selalu menjadi favorit anak-anak kota Ciamis terutama setiap sore di alun-alun Ciamis selalu rame oleh anak-anak yang ingin bermain.
Disini istilahnya adalah DELDOM yaitu Delman Domba. Yah sejenis kendaraan yang biasa digunakan untuk menarik penumpang atau barang tapi yang ini khusus di tarik oleh Domba. Jadi ukurannya juga pasti kecil dan hanya muat oleh anak-anak sekitar 3-5 orang saja.
Kebanyakan adalah anak balita yang selalu naik deldom ini. Sekali putar di alun-alun Ciamis tarifnya adalah Rp. 2.000,-. Tapi jangan salah kalo pas lagi musim liburan seperti libur Lebaran atau pas Ramadhan biasanya tarifnya juga suka naik, jadi Rp. 3.000,- sekali naik.
Ada tiga deldom yang selalu beroperasi di alun-alun Ciamis, semuanya milik perorangan. Dan si Luthfi udah punya langganan sendiri yaitu deldom khusus yang dia suka.
Deldom ini hanya ada di alun-alun Ciamis dan setiap hari selalu hadir mulai pukul 16.00 – 18.00 atau sampai menjelang waktu Buka di saat Ramadhan. Jadi kalo ada yang mampir ke Ciamis dan membawa keluarga atau anak-anaknya, jangan lupa untuk mampir di alun-alun Ciamis.
Sambil melepas lelah dalam perjalanan, kita juga bisa menghibur anak-anak dengan berbagai permainan anak-anak yang banyak terdapat di alun-alun Ciamis. Untuk para orang tuanya, bisa juga sambil menikmati jajanan yang banyak tersedia mulai dari pisang keju, jagung bakar, pisang goreng, gorengan, cimol, cilok, sampai Sorabi dan Bandros juga ada.
Pokoknya menurut mang cocok deh buat yang lagi bepergian ke luar kota dan mampir di Ciamis untuk beristirahat sejenak di seputaran alun-alun Ciamis, menikmati hiburan yang tersedia juga bisa melepas kerinduan kita terhadap makanan tradisional, asyik kan……….
So Jangan lupa lampir ke Ciamis, nikmati keragaman yang ada di alun-alun Ciamis, nanti dari situ bisa terus deh mampir ke rumah mang, karena dari alun-alun tuh ga jauh dengan rumah mang, ok coy…….
Kamis, 23 April 2009
Perlu Alternatif Tayangan Hiburan Anak
Masyarakat, khususnya anak-anak, perlu tayangan alternatif mengatasi dominasi sinetron yang miskin nilai akal budi dan budaya. Inilah yang melatarbelakangi Televisi Berlangganan Astro mengadakan ”Hom Pim Pa”, program televisi yang mengeksplorasi bakat sekaligus kebutuhan riil siswa akan hiburan.
Hom Pim Pa merupakan sub-program dari Asyro Ceria, salah satu kanal (channel) Astro yang lagi dirintis. Menurut Lili Wahyuni, Marketing PT. Adi Karya Visi, pemilik hak siar televisi berjaringan ini di Indonesia, program Hom Pim Pa ini pada dasarnya merupakan ajang mencari dan menemukan bakat seni siswa sekolah dasar. Mereka diberi kesempatan aktif bergabung dan menunjang program yang ada.
”Eksplorasi bakat anak yang belum tampak merupakan inti program ini. Jadi, bukan kompetisi,” ucapnya di sela-sela kunjungan (school visit) ke SDN Merdeka, Rabu (16/1).
Program ini terbagi dalam tiga segmen : Pura-pura, yaitu anak-anak berperan dalam karakter tertentu ; Ngobrol Yuk atau acara talkshow dimana siswa dapat mengungkapkan pendapat dengan gayanya sendiri ; serta Calon Beken, yaitu ajang seni.
”Secara tidak langsung, bisa jadi sarana membangun karakter. Kebebasan untuk berekspresi adalah hal esensi bagi individu, menjadi hak dasar,” ujar Ika Sastrosoebroto, President Director Prominent.
Program yang tidak lagi berorientasi rating macam ini bisa menjadi alternatif riil melawan tayangan sinetron. Sebuah program yang digali dari dan untuk anak.
Kepala SDN Merdeka V/I Yati Mulyati mengatakan, kegiatan macam ini sangat baik untuk mengasah kepribadian dan keseimbangan otak anak. ”Akademis melulu kan juga tidak baik. Sekali-kali, entertainment untuk mengasah otak kanan juga perlu. Asal, tidak berlebihan,” ucapnya.
SDN Merdeka merupakan salah satu sekolah penghasil artis berbakat macam Ariel ”Peterpan” serta Tika dan Tiwi (T2).
Sarana interaksi
Menurut Tokoh pendidikan Arfi D. Moenanadaris, kegiatan yang mengakomodasi potensi perkembangan anak-anak pada dasarnya bagus. Asalkan, tidak mengakibatkan ekspolitasi.
Psikolog klinis Universitas Indonesia Lifina Pohan mengatakan, program ini merupakan bentuk sarana tepat interaksi anak yang berkesinambungan.
Namun, ia mengingatkan, peran orangtua tetaplah tinggi agar interaksi itu tepat dan mencapai sasaran. ”Dalam proses interaksi dengan fasilitator, teman, orangtua, serta lingkungan, anak belajar merespon stimulus, bagaimana mereka harus berperilaku. Ada hal yang harus dilakukan dan tidak. Keluarga tetap harus mendampingi agar terarah,” ujar Lifina.
Astro melakukan School Visit ke 20 sekolah dasar di Bandung, kemarin, untuk menggali ide dan sosialisasi program ini. Bandung merupakan satu dari tiga kota besar yang menjadi sasaran road show selain Surabaya dan Jakarta. Acara puncak kegiatan ini di Bandung akan dilakukan Minggu (20/1) di Bandung Super Mall.